Get me outta here!

Wednesday, April 2, 2014

Hati-Hati Salah Kaprah..



Emansipasi wanita, gue sih yakin semua orang udah gak asing lagi ketika mereka mendengar emansipasi wanita. Hari gini, dimana-mana sebagian orang sudah pernah membahas dan menyoal tentang emansipasi wanita.  Tapi pada nyadar gak sih, kebanyakan perempuan itu menjujung tinggi emansipasi wanita saat posisinya menguntungkan bagi mereka. Menurut lu gimana? oke, let's talk about it..

Pakde wiki bilang bahwa emansipasi ialah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat. Dalam hal ini, beberapa orang, khususnya perempuan, terkadang salah mengartikan apa makna yang tertanam di dalamnya dan melakukan apa saja demi mendapatkan sebuah kedudukan dalam karirnya. 

Gue pribadi juga mendukung pemikiran tentang emansipasi wanita karena, pada dasarnya, wanita juga membutuhkan sedikit posisi yang tidak terlalu jauh bedanya dengan laki-laki. Tidak telalu jauh perbedaanya..!! yang artinya antara laki-laki dan perempuan, dalam hal apa pun itu, tidak bisa di setarakan secara keseluruhan. Emansipasi wanita itu boleh-boleh aja, asal jangan berlebihan dan membabi buta. Itu intinya.

Tapi yang terjadi sekarang sudah di luar jalur dari kata-kata "kodrat" atau "wajar". Beberapa dari perempuan tidak lagi memikirkan batas kemampuan mereka sehingga mereka sangat bernafsu untuk bisa mengambil alih kedudukan seorang laki-laki. Melawan takdir demi memuaskan hasrat emosional. Dan jelas sekali itu akan berujung pada sesuatu yang lebih negatif ketimbang positif.

1. Emansipasi wanita dalam rumah tangga

Mungkin ini merupakan contoh kecil tapi berakibat fatal untuk keharmonisan rumah tangga,    apalagi ketika si wanita sudah menganggap bahwa dirinya lah yang lebih mampu menghidupi keluarganya di banding sang suami. Sisi positifnya mungkin si istri bisa meringankan beban keluarga karena berpenghasilan lebih besar dari pada suami. Tapi pernah berfikir gak sih apa sisi negatif yang lebih berbahaya?, terkadang si istri keluar pada jam  malam atau lebih meluangkan waktunya hanya demi memenuhi jadwal pertemuan dengan kliennya atau rekan bisnisnya daripada buat keluarganya. Mungkin itu terdengar sepele, tapi hal tersebutlah yang mampu mengantarkan wanita ke jenjang kehancuran, yaitu sebagai orang yang melangkahi kodratnya. Perempuan boleh berkarir, asal kewajibannya sebagai seorang wanita atau ibu rumah tangga tidak terabaikan atau dikesampingkan. BE OBEDIENT.

2. Emansipasi wanita dalam kenegaraan

Nah, ini yang lebih parah. Ketika seorang perempuan yang tak mempunyai kemampuan atau tak mempunyai jiwa kepemimpinan tetapi memaksakan diri untuk menjadi seorang pemimpin negara. Mungkin negara Indonesia sudah mempunyai pengalaman bagaimana dampak negatif untuk sistem sebuah negara saat pemimpinnya diambil alih oleh seorang perempuan. Hancur. Aset negara sedikit demi sedikit terkikis (terjual). Cukuplah perempuan itu menjadi seorang ibu negara. Menjadi seorang ibu negara saja belum tentu beres yang bisanya sekedar melihat keadaan rakyatnya melalui titik lensa kamera. Bahkan lebih mengutamakan kesenangannya atau hobinya saja. Pada dasarnya perempuan itu jiwanya rapuh. Untuk itulah mengapa Islam melarang perempuan menjadi seorang pemimpin. Perempuan boleh memimpin asalkan itu sesama perempuan dan tidak untuk memimpin kaum laki-laki. Dan itu lah kenapa laki-laki yang boleh menjadi imam dalam sholat. Laki-laki pun boleh memimpin asalkan memenuhi syarat sebagai seorang pemimpin. Itu ajaran Islam. 

3. Menatas-nakaman emansipasi wanita saat posisi menguntungkan

Wah ini, mungkin sekedar lelucon tapi para pembaca bisa mengambil hikmah atau intisari dari poin yang ini. Pernah mendengar wanita yang masih menjunjung tinggi atau memegang teguh emasipasi wanita  saat posisinya tidak menguntungkan bagi mereka? Misalnya: 

A. Pernahkah anda mendengar ketika ada seorang ditolak kerja menjadi pekerja (kuli) bangunan karena itu pekerjaan laki-laki dan perempuan itu berucap "Lho, ini kan zamannya emansipasi  wanita, boleh dong saya kerja sebagai kuli bangunan". Hampir tidak ada bro. Itu karena kedudukan laki-laki tidak bisa sepenuhnya digantikan dengan perempuan. Begitu pun sebagai seorang pemimpin.

B. Ketika rumah tangga sedang terguncang dan harus mengambil sebuah keputusan yang berat, kebanyakan seorang istri akan berucap seperti ini "Kamukan yang imam keluarga, ya kamu cari jalan keluarnya dong seperti apa".  Nah lho, menyelesaikan permasalahan rumah tangga aja belum becus apalagi permasalahan negara yang begitu rumit. Dalam hal ini, perempuan akan tetap mengembalikan hal itu kepada laki-laki saat posisinya terdesak. Makanya, bagi seorang istri, jangan merasa menjadi tulang punggung keluarga (me-raja-i) saat penghasilan kalian lebih besar daripada suami kalian karena bagaimana pun juga, seorang suami lah yang kedudukannya lebih tinggi karena mereka akan mempertanggung-jawabkan semuanya kepada Tuhan. Bagaimana pun, keputusan penuh tetap berada di tangan suami. TAPI JANGAN DITURUTIN KALAU KEPUTUSAN SUAMI ITU MENCELAKAKAN. Misalnya dengan mengakhiri hidupnya dengan paksa (bunuh diri). Bunuh diri kok ngajak-ngajak, itu bukan seorang imam yang baik atau mungkin dia bukan laki-laki.


Inti dari tulisan ini adalah untuk mengingatkan seperti apa sih kodrat perempuan itu. Silahkan berkarir, asal jangan lupa kewajiban dan juga jangan sampai dibutakan dengan masalah-masalah duniawi sehingga melampaui batas kodrat sebagai perempuan. Semoga bermanfaat

0 comments:

Post a Comment

Kasih congoran lu dimari bray !